Selasa, 20 Juni 2017

SISTEM PENDIDIKAN SENI

SISTEM PENDIDIKAN SENI

Secara umum terdapat 3 sistem pendidikan seni yang umum dilakukan, yaitu sistem pencantrikan, sistem akademik, dan sistem sanggar.
Sistem Pencantrikan
Dalam masyarakat yang paling sederhana pada masa awal peradaban manusia ibu melatih anak perempuannya untuk beercocok taman, ayah melatih anak laki-lakinya untuk berburu merupakan bentuk pendidikan tertua. Pendidikan orang tua kepada anaknya untuk mempersiapkan hidup mereka pada hakekatnya masih berlangung sampai saat ini, sekalipun bentuk, cara, dan kwalitas tujuannya berbeda. Dalam masyarakat yang telah mengenal peradaban lebih maju, mereka telah mampu memandang hidup tidak hanya lewat kacamata survival, melainkan pandangan yang lebih luas. Pendidikan orang tua kepada anaknya tidak terbatas pada pemberian materi yang bernilai praktis, melainkan juga nilai yang idealis.
Pemberian keterampilan khusus yang dimiliki orang tua seringkali  didasarkan pada motif rasa bangga, dalam hal anaknya akan menjadi penerusnya. Contohnya seorang seniman wayang atau Dalang akan melatih anaknya terus-menerus demi menjadikan anaknya sebagai Dalang juga nantinya. Penyerahan keterampilan ini seringkali tidak berjalan dengan wajar, karena cita-cita ideal si ayah tidak dapat diterima oleh anak. Penolakan biasanya terjadi setelah pandangan hidup anaknya berubah, dia mempunyai hak untuk menentukan tujuan hidupnya sendiri tanpa terikat oleh orang lain sesuai dengan keterampilan, bakat dan minat di bidang seni yang lain.
Mengingat pada sistem pencantrikan yang berperan sebagai guru adalah seniman, banyak murid yang terkadang kurang merasa nyaman karena cara mengajar yang terkadang bersifat militer. Sehingga pelajar yang motivasinya kurang kuat akan gagal, sedangakan bagi siswa mempunyai motivasi yang kuat serta rasa kagum yang mendalam terhadap gurunya (seniman), akan berhasil nantinya yang dianggap mampu membawakan faham seni si pengajar.

Sistem Akademik

Sistem Pendidikan Seni
Pertumbuhan peradaban ditandai dengan munculnya seni dalam kehidupan masyarakat, perjuangan untuk mempertahankan hidup (survival) yang dilakukan oleh manusia purba seperti berburu dianggap kejam terhadap alam. Hal tersebut mendorong manusia untuk melakukan perbuatan yang lebih artistik, dengan diperkuat oleh kesadaran magis yang dituangkan di dinding-dinding gua, pada alat berburu atau dituangkan dalam wujud gerakan tubuh seperti tari perang dan tari persembahan.
Dalam perkembangannya ungkapan perasaan tertuang dalam dunia religi dan dibarengi dengan munculnya sistem kerajaan. Para seniman saat itu ditugaskan untuk menjadikan kerajaan menjadi lebih indah, oleh karena itu raja memberi imbalan bahkan bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Berhubung dengan itu, raja mendirikan pusat pendidikan seni untuk mencari seniman-seniman baru yang mula-mula dengan sistem cantrik yang kemudian lebih sistematik yaitu akademi seni. Akademi seni pertama kali berdiri di Italia pada abad ke-13 tetapi hanya untuk kalangan atas. Setelah zaman Renaisance abad 14-15 seni menjadi milik semua orang, setiap orang mempunyai artisitik yang orisinil dalam menginterpretasikan apa saja yang dikerjakan.
Pada abad ke-20 konsumsi seni mulai meningkat, oleh karena itu munculah perekrutan seniman dalam bentuk-bentuk sekolah tingkat menengah atau universitas yang mengikuti pola akademi. Konpetensi pengajar, kapasitas calon pelajar dan kurikulum telah ditetapkan standarnya dengan tujuan pendidikan untuk menyiapkan seniman atau pekerja seni/pengrajin

Sistem Sanggar   

Sistem Pendidikan Seni
Orang-orang Eropa yang masuk ke Amerika bekerja sebagai pengamen seni, mereka menggambar potret-potret menurut pesanan mulai dari desa sampai ke kota. Melakukan pameran-pameran ke berbagai tempat kemudian bertemu dengan sesama seniman dengan menukar pengalaman dan ide mereka. Di Indonesia sendiri perjalanan seniman hampir sama, mereka mendirikan sanggar-sanggar di berbagai daerah di Jawa khususnya Yogyakarta.
Waktu itu Indonesia belum ada lembaga formal dalam pendidikan seni, maka sanggar yang berperan penting untuk menghimpun para seniman untuk merekrut generasi muda yang tertarik terhadap seni. Baru setelah merdeka berdirilah ASRI dan ITB. Sebagai pusat pendidikan sanggar menyelanggarakan proses belajar-mengajar secara informal, suasana bebas, berpusat sepenuhnya pada pelajar. Bertujuan untuk menyiapkan calon-calon seniman yang tidak dapat diterapkan pada sistem pendidikan umum.   


itulah beberapa sistem pendidikan seni yang terbagi atas 3 sistem yang masing-masing memiliki kelebihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Saat ini pendidikan seni lebih mendapat perhatian sehingga dapat disampaikan di sekolah mengingat fungsi dari pentingnya pendidikan seni tersebut, salah satunya untuk membentuk kepribadian peserta didik.  

SIFAT,TIPE,PERIODISASI,UNGKAPAN DAN PERSPEKTIF SENI RUPA ANAK

SIFAT SENI RUPA ANAK
Dalam tata  ungkapan emosinya anak-anak  masih  memiliki  keaslian  dalam bentuk gambar  atau karya sehingga memiliki keunikan dibandingkan dengan orang dewasa. Secara khusus, berikut ini disarikan berdasarkan  pendapat  Soesatyo  (1994:  32  –33)  bahwa  sifat  lukisan  (gambar)  anak-anak sebagai berikut:
1. Ideographisme.
Semua bagian yang dia ingat ada, maka akan dia lukiskan, meskipun pada realitasnya, tidak semua bagian dapat tergambar di dalam satu gambar. Lukisan  anak  merupakan  ekspresi  berdasar  pengertian  dan  logika  anak, contoh: anak melukis muka manusia dari samping, meskipun dalam kenyataan penglihatan, matanya nampak sebuah saja, tetapi berdasarkan pengertian anak bahwa manusia itu bermata dua, maka dilukislah kedua mata itu disamping.
2. Steorotif atau otomatisme.
Ciri  gambar  anak  yang  kedua  adalah  ditemukannya  gejala  umum penggambaran  bentuk  benda  secara  berulang-ulang  dengan  ukuran  yang monoton.  Gejala ini dinamakan stereotipe. Misalnya figure manusia yang diulang  dalam  bentuk  yang  sama  meski  warnanya  berbeda- beda. Atau bunga-bunga yang sama diulang-ulang. Bahkan sampai pada tema yang terus diulang-ulang.
3. Gejala finalitas
Biasanya anak melukiskan manusia atau mahluk lainnya dalam gerak.  Penggambaran suatu peristiwa yang sedang terjadi divisualisasikan dengan membuat objek gambar yang diulang-ulang. Namun  tidak  semua  bagian  atau  anggota  badan  dilukis,  hanya  yang  perlu-perlu saja atau yang dirasakan penting dalam tema lukisan. Misalnya ibu yang sedang  menyapu,  dilukis  hanya  satu  tangan  saja  yang  memegang  sapu  itu, sedang  tangan  yang  satu  yang  tidak  berperan  tidak  dilukis. Atau tangan yang lebih berperan dilukis lebih besar dan lebih mendapat tekanan.
4. Perebahan atau lipatan
Sifat  ini  merupakan  peristiwa  yang  lucu  namun  logis  buat  anak-anak. Disebut juga sifat tegak lurus atau sifat rabatemen. Benda apa saja yang berdiri tegak pada suatu garis dasar akan dilukis tegak lurus pada garis dasar  tersebut  meskipun  garis  dasar  itu  berbelok  atau  miring  arahnya. Akibatnya semua benda tampak rebah atau malah terjungkir.
5. Transparan/X-ray
Pada  usia  tertentu  kita  dapat  menjumpai  lukisan  anak  dengan  sifat  tembus pandang. Anak cenderung melukiskan semua yang ia pikirkan dn ia mengerti meskipun ada beberapa benda objek yang berada di dalam ruang atau tempat tertutup. Akibatnya adalah  peristiwa  tembus  pandang  atau  sinar  X (x–ray). Contoh:  ibu  dan  bapak  duduk  di  dalam  rumah  dan  tertutup  dinding, namun dilukis  lengkap  dengan  benda  dan  perabot  lain. Kucing makan tikus.  Tikus yang di dalam perut kucing  dilukis juga.  Sabagai  bahan perbandingan lihat  Satu nilai yang dapat kita tiru dari anak-anak dengan karakterisrik gambar ini adalah kejujuran  dan  kepolosan  jiwa anak. Tentunya hal ini berbeda dengan orang dewasa yang penuh dengan kepura-puraan.
6. Juxtaposisi.
Sifat Pemecahan masalah ruang (kedalaman jauh dekat) dalam  bidang  datar, diatasi dengan  dasar pemikiran  praktis. Anak melukis benda atau objek yang jauh di bagian atas kertas sedang yang dekat dibagian bawah. Bertebar namun artistic, mirip lukisan Bali.
7. Simetris (setangkep)
Dalam melukis suatu objek sering timbul gejala atau hasrat untuk melukis hal-hal yang asimetris menjadi asimetris. Misalnya dua pohon besar di kiri dan di kanan, dua buah gunung kembar dengan matahari di tengah, setangkai bunga dengan daun kiri dan di kanan, dan sebagainya.
8. Proporsi (perbandingan ukuran)
Anak- anak lebih  mementingkan  proporsi  nilai  dari  pada  fisik. Hal-hal yang dianggap lebih penting dibuat lebih besar atau lebih jelas.
9. Lukisan bersifat cerita (naratif)
Lukisan/gambar yang dibuat anak merupakan ungkapan perasaan atau gejolak jiwa. Jadi lukisan adalah cerita anak, bukan sekedar mencoret sebagai aktivitas motoric atau gerak anatomis saja. Maka perlu ditanggapi  secara  wajar  dan dalam sikap menerima serta mengahargai.
A.    TAHAP PERKEMBANGAN SENI RUPA ANAK
Pembagian  masa/periodisasi  dimaksudkan  untuk  lebih  mengenal  karya  seni rupa  anak  dalam  hal  melakukan  kegiatan  dan  penilaian.  Pada  umumnya  semua periodisai  yang dikemukakan oleh para  ahli   memiliki kesamaan,  misalnya  dimulai dari dua tahun.
Periodisasi  masa  perkembangan  seni rupa anak menurut  Viktor  Lowenfeld dan Lambert Brittain dalam:  Creative  and  Mental  Growth adalah
Masa mencoreng (scribbling): 2-4 tahun, Masa Prabagan (preschematic):4-7 tahun ,Masa Bagan (schematic period) : 7-9 tahun,Masa Realisme Awal (Dawning Realism): 9-12 tahun,Masa Naturalisme Semu (Pseudo Naturalistic) : 12-14 tahun ,Masa Penentuan (Period of Decision)                    :14-17 tahun.
Penjelasan periodisasi perkembangan seni rupa anak diatas adalah sebagai berikut:
1.      Masa Mencoreng (scribbling)   : 2-4 tahun
Goresan-goresan  yang  dibuat  anak  usia  2-3  tahun  belum  menggambarkan  suatu  bentuk  objek.  Pada  awalnya,  coretan  hanya  mengikuti  perkembangan  gerak motorik.  Biasanya,  tahap  pertama  hanya  mampu  menghasilkan  goresan  terbatas, dengan arah vertikal atau horizontal. Hal  ini tentunya berkaitan dengan kemampuan motorik  anak  yang  masih  mengunakan  motorik  kasar.  Kemudian,  pada perekembangan  berikutnya  penggambaran  garis  mulai  beragam  dengan  arah  yang bervariasi pula. Selain itu mereka juga sudah mampu mambuat garis melingkar.
Periode ini  terbagi ke dalam  tiga tahap, yaitu: 1) corengan tak beraturan, 2) corengan terkendali, dan 3) corengan bernama.
Ciri  gambar yang dihasilkan anak pada tahap  corengan tak beraturan  adalah bentuk  gembar  yang  sembarang,  mencoreng  tanpa  melihat  ke  kertas,  belum  dapat membuat corengan berupa lingkaran dan memiliki semangat yang tinggi.
Corengan  terkendali  ditandai  dengan  kemampuan  anak  menemukan  kendali  visualnya  terhadap  coretan  yang  dibuatnya.  Hal  ini  tercipta  dengan  telah  adanya kerjasama  antara  koordiani  antara  perkembangan  visual  dengan  perkembamngan motorik.  Hal  ini  terbukti  dengan  adanya  pengulangan  coretan  garis  baik  yang  horizontal , vertical, lengkung , bahkan lingkaran.
Corengan  bernama  merupakan  tahap  akhir  masa  coreng  moreng.  Biasanya terjadi  menjelang  usia  3-4  tahun,  sejalan  dengan  perkembangan  bahasanya  anak  mulai  mengontrol  goresannya  bahkan  telah  memberinya  nama,  misalnya:  “rumah”, “mobil”,  “kuda”.  Hal  ini  dapat  digunakan  oleh  orang  tua  atau  guru  pada  jenjang pendidikan  usia  dini  (TK)  dalam  membangkitkan  keberanianan  anak  untuk mengemukakan  kata-kata  tertentu  atau  pendapat  tertentu  berdasarkan  hal  yang digambarkannya.
2.      Masa Prabagan (preschematic)  : 4-7 tahun
Kecenderungan  umum  pada    tahap  ini,  objek  yang  digambarkan  anak biasanya  berupa  gambar  kepala-berkaki.  Sebuah  lingkaran  yang  menggambarkan kepala kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki.  Ciri-ciri  yang  menarik  lainnya  pada  tahap  ini  yaitu  telah  menggunakan bentuk-bentuk  dasar  geometris  untuk  memberi  kesan  objek  dari  dunia  sekitarnya. Koordinasi  tangan  lebih  berkembang.  Aspek  warna  belum  ada  hubungan  tertentu dengan  objek,  orang  bisa  saja  berwarna  biru,  merah,  coklat  atau  warna  lain  yang disenanginya.
Penempatan  dan  ukuran  objek  bersifat  subjektif,  didasarkan  kepada kepentingannya. Ini  dinamakan  dengan  “perspektif batin”. Penempatan objek dan penguasan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.
3.      Masa Bagan (schematic period)   : 7-9 tahun
Konsep bentuk mulai tampak lebih jelas. Anak cenderung mengulang bentuk. Gambar      masih  tetap  berkesan  datar  dan  berputar  atau  rebah  (tampak  pada penggambaran pohon di kiri kanan jalan yang dibuat tegak lurus dengan badan jalan, bagian  kiri  rebah  ke  kiri,  bagian  kanan  rebah  ke  kanan).  Pada  perkembangan selanjutnya kesadaran ruang muncul dengan dibuatnya garis pijak (base line).
Penafsiran  ruang  bersifat  subjektif,  tampak  pada  gambar  “tembus  pandang” (contoh:  digambarkan  orang  makan  di  ruangan,  seakan-akan  dinding  terbuat  dari kaca).  Gejala  ini  disebut  dengan  idioplastis  (gambar  terawang,  tembus  pandang). Misalnya  gambar  sebuah  rumahyang  seolah-olah  terbuat  dari  kaca  bening,  hingga seluruh isi di dalam rumah kelihatan dengan jelas.
4.      Masa Realisme Awal  (Dawning Realism)  : 9-12 tahun
Pada  periode  Realisme  Awal,  karya  anak  lebih  menyerupai  kenyataan. Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan penglihatan sendiri. Mereka menyatukan  objek  dalam  lingkungan.  Perhatian  kepada  objek  sudah  mulai rinci.  Namun  demikian,  dalam  menggambarkan  objek,  proporsi  (perbandingan ukuran) belum dikuasai sepenuhnya.  Pemahaman  warna  sudah  mulai disadari. Penguasan konsep  ruang mulai  dikenalnya sehingga  letak  objek  tidak lagi  bertumpu  pada  garis  dasar,  melainkan  pada  bidang  dasar  sehingga  mulai ditemukan  garis  horizon.  Selain  dikenalnya  warna  dan  ruang,  penguasaan  unsur  desain seperti keseimbangan dan irama mulai dikenal pada periode ini.
Ada  perbedaan  kesenangan  umum,  misalnya:  anak  laki-laki  lebih  senang kepada menggambarkan kendaraan, anak perempuan kepada boneka atau bunga.
5.      Masa Naturalisme Semu (Pseudo Naturalistic) : 12-14 tahun
Pada  masa  naturalisme  semu,  kemampuan  berfikir  abstrak  serta  kesadaran sosialnya  makin  berkembang.  Perhatian  kepada  seni  mulai  kritis,  bahkan  terhadap karyanya  sendiri.  Pengamatan  kepada  objek  lebih  rinci.
6.      Masa Penentuan (Period of Decision) : 14-17 tahun.
Pada  periode  ini  tumbuh  kesadaran  akan  kemampuan  diri.  Perbedaan  tipe individual  makin  tampak.  Anak  yang  berbakat  cenderung  akan  melanjutkan kegiatannya  dengan  rasa  senang,  tetapi  yang  merasa  tidak  berbakat  akan meninggalkan  kegiatan  seni  rupa,  apalagi  tanpa  bimbingan.  Dalam  hal  ini  peranan  guru banyak  menentukan,  terutama dalam meyakinkan  bahwa  keterlibatan  manusia dengan  seni  akan  berlangsung  terus  dalam  kehidupan.  Seni  bukan  urusan  seniman saja, tetapi urusan semua orang  dan siapa pun tak akan terhindar dari sentuhan seni dalam kehidupannya sehari-hari
B.     TAHAP PERKEMBANGAN SENI RUPA ANAK
Periodisasi  masa  perkembangan  seni rupa anak menurut  Viktor  Lowenfeld dan Lambert Brittain dalam:  Creative  and  Mental  Growth adalah
Masa mencoreng (scribbling) : 2-4 tahun,Masa Prabagan (preschematic) : 4-7 tahun,Masa Bagan (schematic period) : 7-9 tahun ,Masa Realisme Awal  (Dawning Realism) : 9-12 tahun ,Masa Naturalisme Semu (Pseudo Naturalistic) : 12-14 tahun ,Masa Penentuan (Period of Decision)                    : 14-17 tahun.
Penjelasan periodisasi perkembangan seni rupa anak diatas adalah sebagai berikut:
1.      Masa Mencoreng (scribbling)   : 2-4 tahun
Goresan-goresan  yang  dibuat  anak  usia  2-3  tahun  belum  menggambarkan  suatu  bentuk  objek.  Pada  awalnya,  coretan  hanya  mengikuti  perkembangan  gerak motorik.  Biasanya,  tahap  pertama  hanya  mampu  menghasilkan  goresan  terbatas, dengan arah vertikal atau horizontal. Hal  ini tentunya berkaitan dengan kemampuan motorik  anak  yang  masih  mengunakan  motorik  kasar.  Kemudian,  pada perekembangan  berikutnya  penggambaran  garis  mulai  beragam  dengan  arah  yang bervariasi pula. Selain itu mereka juga sudah mampu mambuat garis melingkar.
Periode ini  terbagi ke dalam  tiga tahap, yaitu: 1) corengan tak beraturan, 2) corengan terkendali, dan 3) corengan bernama.
Ciri  gambar yang dihasilkan anak pada tahap  corengan tak beraturan  adalah bentuk  gembar  yang  sembarang,  mencoreng  tanpa  melihat  ke  kertas,  belum  dapat membuat corengan berupa lingkaran dan memiliki semangat yang tinggi.
Corengan  terkendali  ditandai  dengan  kemampuan  anak  menemukan  kendali  visualnya  terhadap  coretan  yang  dibuatnya.  Hal  ini  tercipta  dengan  telah  adanya kerjasama  antara  koordiani  antara  perkembangan  visual  dengan  perkembamngan motorik.  Hal  ini  terbukti  dengan  adanya  pengulangan  coretan  garis  baik  yang  horizontal , vertical, lengkung , bahkan lingkaran.
Corengan  bernama  merupakan  tahap  akhir  masa  coreng  moreng.  Biasanya terjadi  menjelang  usia  3-4  tahun,  sejalan  dengan  perkembangan  bahasanya  anak  mulai  mengontrol  goresannya  bahkan  telah  memberinya  nama,  misalnya:  “rumah”, “mobil”,  “kuda”.  Hal  ini  dapat  digunakan  oleh  orang  tua  atau  guru  pada  jenjang pendidikan  usia  dini  (TK)  dalam  membangkitkan  keberanianan  anak  untuk mengemukakan  kata-kata  tertentu  atau  pendapat  tertentu  berdasarkan  hal  yang digambarkannya.
2.      Masa Prabagan (preschematic)  : 4-7 tahun
Kecenderungan  umum  pada    tahap  ini,  objek  yang  digambarkan  anak biasanya  berupa  gambar  kepala-berkaki.  Sebuah  lingkaran  yang  menggambarkan kepala kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki.  Ciri-ciri  yang  menarik  lainnya  pada  tahap  ini  yaitu  telah  menggunakan bentuk-bentuk  dasar  geometris  untuk  memberi  kesan  objek  dari  dunia  sekitarnya. Koordinasi  tangan  lebih  berkembang.  Aspek  warna  belum  ada  hubungan  tertentu dengan  objek,  orang  bisa  saja  berwarna  biru,  merah,  coklat  atau  warna  lain  yang disenanginya.
Penempatan  dan  ukuran  objek  bersifat  subjektif,  didasarkan  kepada kepentingannya. Ini  dinamakan  dengan  “perspektif batin”. Penempatan objek dan penguasan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.
3.      Masa Bagan (schematic period)   : 7-9 tahun
Konsep bentuk mulai tampak lebih jelas. Anak cenderung mengulang bentuk. Gambar      masih  tetap  berkesan  datar  dan  berputar  atau  rebah  (tampak  pada penggambaran pohon di kiri kanan jalan yang dibuat tegak lurus dengan badan jalan, bagian  kiri  rebah  ke  kiri,  bagian  kanan  rebah  ke  kanan).  Pada  perkembangan selanjutnya kesadaran ruang muncul dengan dibuatnya garis pijak (base line).
Penafsiran  ruang  bersifat  subjektif,  tampak  pada  gambar  “tembus  pandang” (contoh:  digambarkan  orang  makan  di  ruangan,  seakan-akan  dinding  terbuat  dari kaca).  Gejala  ini  disebut  dengan  idioplastis  (gambar  terawang,  tembus  pandang). Misalnya  gambar  sebuah  rumahyang  seolah-olah  terbuat  dari  kaca  bening,  hingga seluruh isi di dalam rumah kelihatan dengan jelas.
4.      Masa Realisme Awal  (Dawning Realism)  : 9-12 tahun
Pada  periode  Realisme  Awal,  karya  anak  lebih  menyerupai  kenyataan. Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan penglihatan sendiri. Mereka menyatukan  objek  dalam  lingkungan.  Perhatian  kepada  objek  sudah  mulai rinci.  Namun  demikian,  dalam  menggambarkan  objek,  proporsi  (perbandingan ukuran) belum dikuasai sepenuhnya.  Pemahaman  warna  sudah  mulai disadari. Penguasan konsep  ruang mulai  dikenalnya sehingga  letak  objek  tidak lagi  bertumpu  pada  garis  dasar,  melainkan  pada  bidang  dasar  sehingga  mulai ditemukan  garis  horizon.  Selain  dikenalnya  warna  dan  ruang,  penguasaan  unsur  desain seperti keseimbangan dan irama mulai dikenal pada periode ini.
Ada  perbedaan  kesenangan  umum,  misalnya:  anak  laki-laki  lebih  senang kepada menggambarkan kendaraan, anak perempuan kepada boneka atau bunga.
5.      Masa Naturalisme Semu (Pseudo Naturalistic) : 12-14 tahun
Pada  masa  naturalisme  semu,  kemampuan  berfikir  abstrak  serta  kesadaran sosialnya  makin  berkembang.  Perhatian  kepada  seni  mulai  kritis,  bahkan  terhadap karyanya  sendiri.  Pengamatan  kepada  objek  lebih  rinci.
6.      Masa Penentuan (Period of Decision) : 14-17 tahun.
Pada  periode  ini  tumbuh  kesadaran  akan  kemampuan  diri.  Perbedaan  tipe individual  makin  tampak.  Anak  yang  berbakat  cenderung  akan  melanjutkan kegiatannya  dengan  rasa  senang,  tetapi  yang  merasa  tidak  berbakat  akan meninggalkan  kegiatan  seni  rupa,  apalagi  tanpa  bimbingan.  Dalam  hal  ini  peranan guru banyak  menentukan,  terutama dalam meyakinkan  bahwa  keterlibatan  manusia dengan  seni  akan  berlangsung  terus  dalam  kehidupan.  Seni  bukan  urusan  seniman saja, tetapi urusan semua orang  dan siapa pun tak akan terhindar dari sentuhan seni dalam kehidupannya sehari-hari
C.    UNGKAPAN DAN PERSPEKTIF SENI RUPA ANAK
1. Seni Sebagai Ungkapan
Seni rupa atau visual art juga sebagai bentuk ungkapan seni yang mengekspresikan pengalaman hidup, peristiwa yang terjadi, pengalaman estetik atau artistik manusia dengan diungkapkan melalui unsur seni (seni rupa, gerak, bunyi dan bahasa).
Seni sebagai Bahasa
Perilaku anak tidak dapat lepas dari kegiatan kesenian, karena dari sini setiap anak dapat  mengungkapkan ide gagasan, imajinasi, sebuah peristiwa yang pernah terjadi melalui karya seni misal melukis, menggambar, menyanyi, dan tari.Kegiatan ini sebagai sarana komunikasi anak secara visual. Dalam proses berkarya seni, pikiran dan perasaan anak akan bercampur secara aktif. Anak usia dini atau TK belum dapat membedakan makan berfikir dan merasakan semuanya masih menyatu dalam kegiatan yang bersifat refleksi.Viktor Lowenfeld dan Lambert Britain ( Hajar Pamadi, 2012: 157) adalah …”pernah mengutarakan bahwa karya seni anak ini mempunyai jangkuan pikiran yang sangat komprehensif, sering cara menyimbolkan ide dan gagasan serta perasaan anak yang tidak dimengerti oleh orang dewasa tidak direspon secara positif, sehingga anak kendur dalam mengembangkannya”.
Seni Sebagai Bahasa Visual Anak pada usia SD dalam kehidupannya sangat dekat dengan berkarya seni. Hampir bisa dikatakan bahwa perilaku anak dekat dengan kegiatan berkesenian; tiada hari tanpa berseni. Berseni merupakan, kebutuhan anak dalam:mengutarakan pendapat, berkhayal-berimajinasi, bermain, belajar,memahami bentuk yang ada di sekitar anak, merasakan: kegembiraan, kesedihan, dan rasa keagamaan.
Dalam Konteks komunikasi,seni berperan mengemukakan pendapat, tampak ketika anak menyanyi atau menari ataupun menggambar bertema maupun tanpa tema. Karya seni mereka berikan tema Sesuai dengan keinginan pada saat itu; ketika anak membayangkan nikmatnya berada dalam ban-ban ibu, dan ibu menimangnya sambil menyanyikan lagu akan kembali muncul dalam bentuk gambar seorang perempuan dan kain. Ungkapan itu juga dapat berupa celotehan suaran menyanyi dan menirukan orang sedang menimang boneka. Namun, dapat pula berupa gambar tanpa bentuk, yang dimulai dari menggambar pesawat terbang yang indah dengan bentuknya yang khas anak, kemudia sealng beberapa menit gam,bar tersebut dicoret sampai menutup permukaan. Gambar pesawat yang semula sudah tidak nampak lagi. Disinilah ungkapan kesal pesawat musuh menembak pesawat idealnya
2. Perspektif Seni Rupa Anak
Perspektif anak berdasarkan sifat karyanya :
Ideographisme
Lukisan anak merupakan ekspresi berdasar pengertian dan logika anak,contoh:anak melukis muka manusia dari samping, meskipun dalam kenyataan penglihatan, matanya nampak sebuah saja, tetapi berdasarkan pengertian anak  bahwa manusia itu bermata dua, maka dilukislah kedua mata itu disamping.
Perebahan atau lipatan
Sifat ini merupakan peristiwa yang lucu namun logis buat anak-anak Disebut juga sifat tegak lurus atau sifat rabatemen Benda apa saja yang berdiri tegak padasuatu garis dasar akan dilukis tegak lurus pada garis dasar tersebut meskipun garis dasar itu berbelok atau miring arahnya. Akibatnya semua benda tampak rebah atau malah terjungkir.
Gejala finalitas
 bagian yang dirasakan penting dalam tema lukisan di hadirkan lebih . Misalnya ibu yang sedangmenyapu, dilukis hanya satu tangan saja yang memegang sapu itu, sedang tanganyang satu yang tidak berperan tidak dilukis. Atau tangan yang lebih berperandilukis lebih besar dan lebih mendapat tekanan.
Transparan/X-ray
 Kebiasaan dan kecenderuangan anak menggambarkan hal-hal atau peristiwa pada ciri ke tiga ini adalah penggambaran yang tembus pandang. Sebagai contoh bilaanak melihat kucing makan ikan, kemudian kita suruh anak itu untuk menggambarkan kucing, maka anak biasanya akan menggambar kucing dengan perut yang kelihatan ada ikannya.Pada usia tertentu kita dapat menjumpai lukisan anak dengan sifat tembus pandang. Anak cenderung melukiskan semua yang ia pikirkan dn ia mengertimeskipun ada beberapa benda objek yang berada di dalam ruang atau tempattertutup. Akibatnya adalah peristiwa ray).Contoh: ibu dan bapak duduk di dalam rumah dan tertutup dinding, namun dilukislengkap ,nilai yang dapat kita tiru dari anak-anak dengan karakterisrik gambar iniadalah kejujuran dan kepolosan jiwa anak. Tentunya hal ini berbeda dengan orangdewasa yang penuh dengan kepura-puraan
Juxtaposisi
 Sifat Pemecahan masalah ruang (kedalaman jauh dekat) dalam bidang datar,diatasi dengan dasar pemikiran praktis. Anak melukis benda atau objek yang jauhdi bagian atas kertas sedang yang dekat dibagian bawah. Bertebar namun artistic,mirip lukisan Bali.
Simetris (setangkep)
            Dalam melukis suatu objek sering timbul gejala atau hasrat untuk melukis hal-hal yang asimetris menjadi asimetris. Misalnya dua pohon besar di kiri dan di kanan,dua buah gunung kembar dengan matahari di tengah, setangkai bunga dengandaun kiri dan di kanan, dan sebagainya.
 Proporsi (perbandingan ukuran)
Anak-anak lebih mementingkan proporsi nilai dari pada fisik. Hal-hal yang dianggap lebih penting dibuat lebih besar atau lebih jelas.
REFERENSI
1.      Setiawan, Conny. 1997. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: PT Grasindo.
2.      Ahmad, Hariyatunnisa. 2015. Hasil Seni Rupa Berdasarkan Tipologi dan Periodesasi Perkembangan Anak.(Online). http://hrynisaaa.blogspot.co.id/2015/06/hasil-seni-rupa-berdasarkan-tipologi.html (Diakses tanggal 3 Juni 2017)
3.      Pasaribu, Viktor. 2013. Karakteristik Lukisan Gambar Anak.(Online). http://www.academia.edu/3097288/KARAKTERISTIK_LUKISAN_GAMBAR_ANAK. (Diakses tanggal 3 Juni 2017)
4.      Suyono.2015. Seni Rupa Sebagai Bahasa Visual. (Online). http://blogsuyono.com/wawasan-seni-rupa/seni-rupa-sebagai-bahasa-visual/. (Diakses tanggal 3 Juni 2017)




POSTMODERN
Postmodernisme adalah faham yang berkembang setelah era modern dengan modernisme-nya. Postmodernisme bukanlah faham tunggal sebuat teori, namun justru menghargai teori-teori yang bertebaran dan sulit dicari titik temu yang tunggal. Banyak tokoh-tokoh yang memberikan arti postmodernisme sebagai kelanjutan dari modernisme. Namun kelanjutan itu menjadi sangat beragam.
·        Contoh karya :

·        Bentuk : berupa lukisan yang menggambarkan seorang gadis dan lukisan seorang gadis lain yang berada di depannya; perempuan itu dilukis di dalam sebuah cermin. Wajah gadis yang berdiri di depan cermin dilukis dengan dua bagian yang berbeda
·        Corak : Lukisan wajah gadis yang berada dalam cermin dibuat dengan garis dan lengkungan yang berulang juga. Bagian wajah dilukis dengan menggunakan warna-warna yang terang yaitu warna ungu, biru, hijau, jingga dan hitam. Bagian badan gadis itu dilukis dengan garis-garis berwarna hijau yang berulang. Bagian badan dilengkapi dengan warna terang lainnya seperti biru, oranye dan ungu. Garis lengkung memperjelas bentuk bagian badan yang dibagi dua, dua bagian  ditutupi oleh pakaian yang dilukis dengan garis yang berulang. Bagian badan yang lain dilukis dengan warna yang lebih terang, namun tidak berupa garis yang sama. Bagian badan yang ditutupi dengan pakaian ini menggunakan dua warna yang berbeda yaitu hijau muda dan merah
·        Ciri khas : bentuknya sederhana,dan sedikit ornamental, bebas tanpa terikat dengan aturan tertentu. Kebanyakan mengandung unsur kritik social dan kemasyarakatan.
·        Konsep : Melalui karya seni ini, pelukis berusaha menjelaskan emosi yang terdapat ada pada pikiran seorang wanita yang tidak mensyukuri penampilannya,ketidaknyamanan ketika ia melihat dirinya di dalam cermin. Pelukis ingin menjelaskan bagaimana seorang wanita melihat dirinya secara kontras; sangat berbeda dari kenyataannya. Ia melihat bahwa dirinya sangat aneh walaupun kenyataannya tubuh dan wajahnya kelihatan menarik.
·        Perkembangan : Karya seni ini dibuat pada tahun 1932 di Boisgeloup, Perancis. Sekarang karya seni ini dipamerkan di The Museum of Modern Arts, New York, NY, USA. Lukisan ini dicat dengan cat minyak pada media kanvas. Pada jaman kubisme, lukisan pada media kanvas dengan menggunakan cat minyak merupakan suatu inovasi yang baru dikembangkan. 



KARYA SENI KONTEMPORER

KONTEMPORER
Secara bahasa, kontemporer berarti kekinian. Adapun pengertian seni rupa kontemporer adalah cabang seni rupa yang dipengaruh oleh dampak modernisasi. Seni kontemporer dapat pula diartikan sebagai seni yang tidak terikat pakem atau aturan-aturan kuno.
‘Lukisan pemandangan’ karya Christo
·        Bentuk : sebuah lukisan yang menggambarkan pemandangan,yang terdiri dari beberapa gunung,di bawahnya terdapat hamparan bukit-bukit dan pohon-pohon.
·        Corak : memiliki corak warna-warna yang cerah dan tajam,seperti biru muda dan biru tua,hijau,hijau tua,coklat,dan kuning cerah,dan bentuk goresan garis yang terkesan kasar.
·        Ciri khas : Objek Lukisannya Mengutamakan kebebasan berekspresi,dinamis dan tidak terikat aturan. Teknologi masa kini dipadukan dengan seni merupakan ciri khas aliran kontemporer.
·        Konsep : menggambarkan keindahan alam dengan cara yang bebas,lebih berekspresi  dan  dengan penggunaan warna yang tidak biasa(natural),dengan kata lain,penggambaran alam secara kontemporer.

·        Perkembangan :  ketenaran karya Christo ini,membuat lebih banyak lahirnya karya yang menggambarkan keindahan alam dengan gaya yang lebih bebas dan lebih berekspresi.

SENI UNTUK HARMONI

SENI UNTUK HARMONI
Oleh :
Ilma Darajah
Keragaman merupakan realitas sosial yang harus di terima,karena merupakan sesuatu yang melekat pada kehidupan kita sehari-hari, perbedaan-perbedaan selalu hadir dalam setiap aktifitas dan  pemikiran kita,dalam berinteraksi dengan dunia luar,pasti akan kita temui kelompok-kelompok dengan paham-paham dan ideologi yang berbeda,begitu juga setiap individunya yang juga memiliki sifat yang berbeda yang tidak akan sama antara satu dengan lainnya.
Lalu bagaimanakah kita menjalaninya? Dengan segala perbedaan-perbedaan itu? Yaitu dengan menanamkan sikap toleransi dalam jiwa kita. Toleransi di sini adalah sikap lapang dada, menghargai, dan memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk berekspresi, asal tidak melanggar norma sosial yang berlaku. Bahkan kemajemukan dapat memunculkan keindahan , karena setiap keragaman memiliki warna tersendiri yang berbeda antara satu dengan yang lain, dengan begitu, keragaman menimbulkan banyak warna berbeda yang mewarnai kehidupan ini sehingga tercipta Harmoni atau keselarasan.
Seni merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan keindahan di dalam keberagaman atau kemajemukan itu sendiri,banyak sekali pengertian dari seni,namun mengutip dari Ensiklopedi Indonesia, ”Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreativitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan.”(Wikipedia,2016 ,https://id.wikipedia.org/wiki/Seni, 6 Oktober 2016,) yang dapat disimpulkan, seni sebagai wujud ekspresi dan kreatifitasan manusia. Dan kata Budaya berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Jadi  dapat kita devinisikan bahwa budaya adalah tata cara hidup manusia yang dilakukan secara kelompok atau masyarakat, dan di wariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.Dan  semua di rangkum menjadi satu yaitu keragaman seni budaya yang ber-Bhineka Tunggal Ika , dengan menunjukkan adat ketimuran dan berasaskan Pancasila.
Di dalam dunia seni sendiri secara umum terbagi menjadi empat cabang seni, yaitu: Seni Rupa,Seni Musik,Seni Tari,Seni Teater atau Drama, masing-masing merupakan wujud dari ekspresi dan kekreatifitasan manusia yang dihadirkan di dalam media dan peranan yang berbeda. Bahkan dalam satu cabang seni,contohnya seni rupa,seni rupa sendiri memiliki cabang lagi,seperti seni lukis,seni patung,seni ukir,dll.begitupun cabang seni lainnya, Yang menunjukkan kemajemukan dalam dunia Seni,namun meskipun berbeda-beda, tidak menimbulkan perpecahan dalam dunia seni, justru menjadi warna dalam seni,masing-masing  mempunyai kekurangan dan kelebihan dalam mengkomunikasikan keindahannya,seni rupa,dan seni tari hanya dapat di tangkap oleh indra penglihatan saja,tanpa dapat di tangkap indra pendengaran, seni musik dapat di tangkap oleh indra pendengaran,namun tidak dengan penglihatan, seni drama memang dapat di tangkap dari penglihatan dan pendengaran melalui gerak,dan suara lisannya, namun harus juga di lengkapi dengan  tampilan latar belakang ,peralatan, perlengkapan, kostum dan make up yang di hasilkan dari seni rupa,musik sebagai penghias,dan pengiring adegan yang di hasilkan dari seni musik, lalu iringan tarian dari seni tari, yang kesemuanya itu di tambahkan untuk mendukung tampilan dari seni drama, yang jika ada salah satu di kurangkan maka hasilnya tidak akan maksimal., seperti halnya seni Tari yang membutuhkan efek visual dari seni rupa,dan iringan musik dari seni musik ,seni rupa dan musik memang dapat di rasakan tanpa tambahan seni yang lain, namun jika di kombinasikan maka akan terasa lebih sempurna, contohnya film animasi yang di hasilkan dari cabang seni rupa dan musik, meskipun berbeda mereka saling mengisi, dengan keindahannya masing-masing, saling berkombinasi sehingga menambah sensasi dalam menikmati karya seni.
Lalu kebudayaan, setiap kebudayaan selalu menghasilkan karya seni, Indonesia memiliki banyak sekali warisan kebudayaaan, Keanekaragaman budaya Indonesia harus tetap dipertahankan dan terus dilestarikan, dari Sabang sampai Merauke,karena aset seni dan kebudayaan tidak ternilai harganya. Keanekaragaman budaya di Indonesia di sebabkan oleh faktor geografis,agama atau kepercayaan, mobilisasi,iklim,tradisi turun-temurun, dan pengaruh dari luar,
Faktor geografis: tempat tinggalnya seseorang, mempengaruhi suatu kebudayaan yang mereka jalani, Agama atau Kepercayaan : kepercayaan juga mempengaruhi kebudayaan. Misalnya di daerah Medan banyak yang menganut agama kristen. sedangkan Bali kebanyakan menganut agama Hindu, di Ritual-ritual dan upacara agamanya pun jadi berbeda, dan hal ini karena dipengaruhi oleh perbedaan kepercayaan.,Mobilisasi : mobilisasi atau perpindahan penduduk dapat menciptakan budaya baru. Misalnya ada orang Jawa yang tinggal di Palembang. Sehingga apa yang ada disuku Jawa orang tersebut di gabungkan dengan apa yang ada di Palembang, sehingga terbentuk budaya baru (terjadi akulturasi). Pengaruh dari luar: budaya luar yang mempengaruhi Indonesia,misalnya di Indonesia bagian barat banyak yang menganut agama islam karena terpengaruh Turki Indonesia sedangkan bagian timur banyak yang menganut agama kristen,karena terpengaruh Portugis,dll., Iklim : iklim juga mempengaruhi kebudayaan yang dijalani oleh masyarakat. Hawa dan suhu lingkungan  dapat menentukan apa yang kita lakukan,seperti gaya berbusananya,jika daerah tersebut daerah yan panas,maka kebiasaan berpakaiannya cenderung minim dan tipis,sedangkan jika dingin, maka pakaiannya cenderung tebal, Tradisi nenek moyang : turunan dari nenek moyang  atau tradisi yang diturunkan kepada setiap anggota keluarganya. Misalnya bahasa Jawa yang berbeda, walaupun namanya itu sama-sama bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan keturunan dari nenek moyang kita yang terdahulu. Mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa-bahasa tersebut sehingga dari generasi ke generasi bahasa yang digunakan berbeda.
kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia contohnya adalah, Ritual Tiwah, Kalimantan Tengah ,Ritual ini dipercaya dan dilaksanakan oleh masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah, khususnya suku Dayak yang menganut kepercayaan Kaharinan. Tradisi ini merupakan ritual yang bertujuan untuk mengantarkan roh leluhur ke alam baka dengan cara menyucikan lalu memindahkan sisa jasad mereka dari liang kubur ke sebuah tempat yang dikenal dengan sebutan sandung.,Kebo-Keboan , Banyuwangi,Tradisi yang rutin diadakan sekali dalam satu tahun (tepatnya pada tanggal 10 Suro) ini diadakan di Desa Alasmalang, Singojurun, Banyuwangi. Ritual ini merupakan gabungan antara upacara untuk meminta hujan saat musim kemarau atau sebagai ungkapan syukur ketika panen mereka berhasil.,Mapasilaga Tedong, Toraja,yang berarti Adu Kerbau. Kerbau yang diadu merupakan Kerbau Bule atau Kerbau Lumpur. Kedua kerbau ini akan beradu kekuatan menggunakan tanduk untuk menjatuhkan lawannya. Tradisi ini dilaksanakan dalam rangka pemakaman leluhur masyarakat Tana Toraja, Sulawesi Selatan., selanjutnya Pasola-Sumba, Dugderan-Semarang, Tabuik-Pariaman, Makepung-Bali, Debus- Banten, Karapan Sapi- Madura, Kasada-Bromo, dll.

Harmonisasi atau keselarasan dapat di wujudkan dengan sikap terbuka, saling menerima,satu sama lain, dengan sikap terbuka,tanpa adanya Diskriminasi dan dominasi pada ragam tertentu maka akan tercipta keseimbangan yang menghadirkan kelarasan, sehingga dapat tercipta keindahan yang bisa kita rasakan bersama,yang salah satunya bisa terwujud di dalam dunia seni.

KONSEP, FUNGSI, RUANG LINGKUP, DAN JENIS KARYA SENI RUPA ANAK

PENGERTIAN SENI RUPA ANAK
            Menurut  pandangan saya, seni rupa anak adalah proses belajar dalam mewujudkan kreatifitas dan sebagai wujud ekspresi anak yang di komunikasikan dalam bentuk rupa/ visual.
Saya berpendapat seni rupa anak adalah proses belajar, karena seni merupakan hal kedua yang di pelajari oleh anak-anak setelah berlatih berbicara, sebelum ke tahap selanjutnya yaitu menulis.anak belajar berkomunikasi dengan menggambar, kita dapat membaca buku Joseph H.Di Leo, M. D. yang antara lain yang berjudul "Childern's Drawings as Diagnostic Aids" dan "Interpreting Childern's Drawings" Gambar adalah sebuah karangan yang menggunakan bahasa rupa sebagai alat komunikasinya. Karena bahasa rupa merupakan alat komunikasi yang lebih halus ketimbang bahasa biasa, maka dengan cara spontan anak dapat mengarang"mengungkapkan isi hatinya
Seni rupa anak adalah proses belajar anak, di dukung oleh dua konsep Pendidikan Seni yaitu :
Konsep Pertama : Seni dalam Pendidikan
Pada awalnya dikemukakan oleh golongan esensialis yang mengganggap bahwa secara hakiki materi seni penting diberikan kepada anak. Menurut konsep ini, keahlian seni seperti melukis, menyanyi dan sebagainya perlu diajarkan kepada anak dalam rangka pengembangan dan pelestariannya. Artinya seni harus diwariskan melalui  lembaga pendidikan termasuk pendidik. Konsekuensi ini tentunya menuntut tenaga pendidik atau guru yang menguasai sepenuhnya dalam bidang kesenian.
Konsep Kedua  : Pendidikan Melalui Seni
Konsep ini  dipopulerkan oleh Herbert Read dalam Education Truought Art. Berdasarkan pandangan ini, seni dilihat sebagai sarana atau alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan bukan tujuan seni itu sendiri. Konsep Pendidikan Melalui Seni inilah yang dianggap paling sesuai untuk diajarkan atau diselenggarakan di sekolah umum, khususnya pada tingkat dasar dan prasekolah. Penerapan konsep Pendidikan Melalui Seni ini akan menekankan pada “proses” daripada “ hasil”.
Seni digunakan dalam pembelajaran di sekolah untuk mendorong perkembangan peserta didiknya secara optimal, menciptakan keseimbangan rasional dan emosional. Pendidikan melalui seni pada hakekatnya merupakan proses pembentukan manusia melalui seni. Pendidikan seni secara umum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan setiap peserta didik menemukan pemenuhan dirinya (personal fulfillment) dalam hidup.
 Idealnya pendidikan mengajarkan anak-anak bagaimana menjadi merdeka ketika mereka berada dalam lingkungan yang terproteksi seperti dirumah dan disekolah misanya. Pengalaman disekolah diharpkan dapat memberi inspirasi yang berguna bagi mereka untuk melanjutkan pendidikannya hingga menjadi orang dewasa. Tujuan pendidikan melalui program seni akan memilihara prilaku tersebut sehingga menjadi lebih eensial membentuk kemandirian anak sebagai pembelajaran seumur hidup.
FUNGSI SENI RUPA ANAK
Seni rupa memiliki fungsi sebagai media pendidikan untuk anak-anak, yaitu dengan cara menjadikan seni rupa sebagai sarana bermain,yaitu anak bermain dengan membuat karya seni ,mereka belum di haruskan membuat karya seni dengan serius, karena pada anak usia dini, yaitu (0-6 tahun) anak belum bisa di ajak untuk melakukan hal yang serius, di karenakan mereka hanya ingin melakukan hal yang bersifat menyenangkan, dan karena sifat permainan yang menyenangkan, bebas,tidak mengekang karena tidak memiliki akibat yang berdampak hukuman jika melakukan kesalahan, maka di situ akan muncul potensi-potensi anak dari bagaimana cara dia bertindak sesuai dengan kemauan dan cara berfikirnya  sendiri, yang tentu saja, berbeda-beda hasilnya antara satu dan lainnya.
 Dan di situlah, kita sebagai pengajar bisa menangkap potensi-potensi dan kepribadian anak didiknya,dengan cara mengapresiasikan karyanya, karena fungsi seni sendiri sebagai alat komunikasi bagi anak seni rupa anak memiliki efek diagnostik dan efek terapi. Dengan demikian bukan main fungsi yang dimiliki seni rupa anak bagi perkembangan dirinya. Kita dapat membaca karya Joseph H.Di Leo, M. D. yang antara lain yang berjudul "Childern's Drawings as Diagnostic Aids" dan "Interpreting Childern's Drawings" Belajar memahami isi ungkapan anak yang dituangkan ke dalam gambar atau lukisan anak, amat penting bagi guru yang selain untuk kepentingan evaluasi, juga untuk kepentinganpelayanan BP (Bimbingan dan Penyuluhan). Gambar adalah sebuah karangan yang menggunakan bahasa rupa sebagai alat komunikasinya. Karena bahasa rupa merupakan alat komunikasi yang lebih halus ketimbang bahasa biasa, maka dengan cara spontan anak dapat mengarang"mengungkapkan isi hatinya sampai hal-hal yang tidak mungkindiungkapkannya melalui bahasa lisan apalagi bahasa tulis dan untuk selanjutnya setelah guru telah memahami, di berikan pengarahan yang sesuai, demi pengembangan potensinya. Para ahli berpendapat bahwa usia dini merupakan masa yang sangat penting  bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Harun Rasyid, Mansyur, dan Suratno (2009: 48) menyatakan bahwa usia dini merupakan usia emas (golden age) dimana anak tersebut akan mudah menerima, mengikuti, melihat, dan mendengar segala sesuatu yang dicontohkan, diperdengarkan serta diperlihatkan. Oleh karenanya, pendidikan anak usia dini harus memperhatikan seluruh potensi  yang dimilikinya untuk dikembangkan seoptimal mungkin secara menyenangkan, bergembira-ria, penuh perhatian dan kasih sayang, sabar dan ikhlas. Dijelaskan pula dalam Harun Rasyid, dkk. (2009: 48) bahwa dalam pengembangan seluruh potensi ini, juga harus memperhatikan kondisi sosial, kultur, keyakinan, dan kepercayaan, agama serta nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan masyarakat di mana mereka berada. Anak usia dini belajar dengan caranya sendiri. Namun Slamet Suyanto (2003: 7) menjelaskan bahwa guru atau orangtua sering  mengajarkan anak sesuai dengan jalan pikiran orang dewasa. Akibatnya apa yang diajarkan orangtua sulit untuk diterima anak. Selanjutnya Slamet Suyanto (2003: 7) menjelaskan bahwa gejala ini terlihat dari banyaknya hal yang disukai oleh anak dilarang oleh orangtua, dan sebaliknya banyak hal yang disukai orangtua tidak disukai anak.  Pada umumnya semua anak menyukai kegiatan bermain. Menurut Mayke S. Tedjasaputra (2005: 91) bermain merupakan dunia kerja anak usia prasekolah. Melalui bermain, anak dapat memetik manfaat bagi perkembangan aspek fisik-motorik, kecerdasan, sosial emosional. Ketiga aspek tersebut saling menunjang satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Mengacu hal tersebut, oleh karenanya proses pendidikan anak usia dini harus tercipta pada situasi bermain yang menyenangkan. Sejalan dengan pendapat tersebut Tadkiroatun Musfiroh (2009: 16) juga menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini harus mengacu pada prinsip belajar sambil bermain atau belajar seraya bermain.
Manfaat seni rupa sebagai sarana bermain adalah :
a.       Melatih perkembangan sensorik serta motorik
Melalui permainan, anak akan menjadi terlatih ketika melakukan beragam aktivitas sensorik serta  otorik. Permainan aktif melatih panca indera sang anak karena dengan permainan maka semua anggota panca indera anak akan tergerak untuk melakukan sesuatu. Sebagai hasilnya, organ sensorik dan motorik akan semakin baik.
b.      Mengasah memori otak
Anak kecil mempunyai organ memori yang belum banyak terisi oleh beragam hal. Oleh karena itu, melalui bermain anak bisa mengembangkan kemampuan memori yang ia miliki. Anak akan mengekplorasi serta melihat benda yang ada di sekitarnya. Ia terus mempelajarinya dan kemudian mengenal benda-benda dengan warna yang berbeda secara sempurna. Semakin anak bermain, maka otaknya akan semakin terasah dan ia mampu mendapatkan perkembangan memori yang jauh lebih baik.
c.       Mengembangkan etika
Ketika anak bermain, maka ia melakukan banyak hal bersama teman-temannya. Ia mempelajari banyak aturan, mempunyai tingkat sportivitas, dan tentu saja belajar bagaimana membangun etika yang benar. Anak tidak mudah curang ketika berhadapan dengan aturan pada dunia yang sebenarnya, karena ia telah terlatih untuk melakukan banyak hal dengan baik.
d.      Meningkatkan kreativitas anak
Di dalam melakukan permainan, anak-anak dapat mengeksplorasi dan menerapkan banyak ide yang terkait dengan sistem permainan. Semakin banyak media dan jenis permainan yang mereka mainkan, maka akan semakin banyak ide bermunculan. Ketika kreatifitas tersebut terus diasah, maka anak bisa menemukan ide-ide cemerlang pada masa yang akan datang.
      Media-media berkarya seni bagi anak yaitu :
a.       Menggambar
b.      Melukis
c.       Mencetak
d.      Kolase,Mosaik, dan Montase
e.       Menganyam
f.       Mewarnai, Menggunting, dan Menempel 
g.      Membentuk
h.      Merangkai
RUANG LINGKUP SENI RUPA ANAK     
A. SENI RUPA AUD
1. Karya Rupa AUD
      Karya rupa anak  merupakan hasil olah pikiran, keinginan, gagasan dan perasaan anak terhadap lingkungan sekitar, sebagai  bentuk cerminan dan dorongan emosi  anak terhadap lingkungannya.
2. Seni Rupa AUD
      Keterampilan seni rupa adalah menciptakan sesuatu bentuk baru dan mengubah fungsi bentuk. Karena rasa keingintahuan dari anak-anak, Kegiatan berseni rupa ini sering dilakukan oleh anak-anak pada usia dini.
      Bermacam-macam bentuk karya anak akan terlihat :
(1) karya itu setiap saat tidak berkembang, permainan boneka dari kayu, maupun menggerakkan benda berbentuk kubus sebagai mobil atau menggambar gunung dan sungai.
(2) anak selalu berubah memainkan peran benda yang ada.
(3) anak senantiasa mengubah dan terkesan merusak benda yang ada dan tidak dikembalikan seperti bentuk semula.
B. HAKEKAT SENI RUPA AUD
1. Seni sebagai Media Bermain
a. Berimajinasi
b. Permainan ide
c. Permainan fisik
2. Seni sebagai Media Berkomunikasi
Tidak setiap anak mampu mengutarakan pendapatnya secara lisan dengan baik, oleh karena itu gambar dapat digunakan sebagai sarana lain untuk membantu anak mengutarakan pendapat atau berkomunikasi.
3. Seni sebagai Ungkapan Rasa/ Berekspresi
Ketika  anak menggambar, cara bekerjanya berbeda, terdapat 2 gerakan, ada yang mengambar dengan spontan,dan yang  menggambar dengan tenang.
4. Seni untuk Mengutarakan Ide, Gagasan, dan Angan-angan
Terbatasnya kata-kata membuat perasaan anak semakin sulit untuk di salurkan, karena keinginannya mengutarakan pendapat tidak dapat di maknai orang lain. Simbol yang muncul dari pikran anak ini ternyata mempunyai arti yang sangat kompleks mulai keinginan sesuatu, gagasan serta angan-angan yang meluap atas benda kesayangannya.
C. ASPEK-ASPEK SENI RUPA
1. Unsur Rupa
a. Garis
b. Warna
c. Bentuk dan ruang
2. Aspek Rasa
a. Cerita
b. Tema
Tema-tema yang sering dijadikan dorongan berkarya bagi anak adalah :
1)      Lingkungan sekitar anak
2)      Keikutsertaan dalam peristiwa
3)      Kejadian yang menimpa anak
4)      Keinginan anak
5)      Pikiran masa depan
6)      Cerita kepahlawanan
7)      Fiksi dan fantasi
JENIS-JENIS KARYA SENI RUPA ANAK
Menggambar
Description: C:\Users\AZIM\Downloads\Gambar anak Indonesia.jpg
Gambar adalah menyajikan  suatu  bentuk  atau  obyek  yang  bisa  dari  realita  maupun  imajinatif  dengan  menggunakan  garis  sebagai  sarana  utama.  Tetapi  tidak  menutup kemungkinan  dengan  menggunakan  unsur  lain  yang  diperlukan  dalam  rangka menghasilkan  gambar  yang  lebih  bermakna  seperti  tekstur,  nada,  dan  warna.



Melukis
Melukis hampir sama dengan menggambar yaitu sama-sama luapan ekspresi yang tertuang dalam media dua dimensi, namun perbedaannya adalah, jika gambar, tidak selalu berekspresi bebas,terkadang masih terikat aturan tertentu, namun lukisan selalu berekspresi bebas.
Mencetak
Mencetak  merupakan  suatu  cara  berkarya  seni dengan metode memperbanyak gambar dengan alat cetak/acuan/ klise




Kolase, Montase, dan Mosaik
·         Kolase adalah sebuah teknik menempel berbagai macam unsur ke dalam suatu frame sehingga menghasilkan karya seni yang baru. Dengan demikian, kolase adalah karya seni rupa yang dibuat dengan cara menempelkan bahan apa saja ke dalam satu komposisi yang serasi sehingga menjadi satu kesatuan karya
·         Montase merupakan sebuah karya yang dibuat dengan cara memotong objek-objek gambar dari berbagai sumber kemudian di tempelkan pada suatu bidangsehingga menjadi suatu kesatuan karya dan tema (lihat Susanto, 2012: 264). Istilah lain yang di gunakan untuk merujuk pada karya montase adalah rakitan gambar.
 Description: D:\PRODUK NASA\mosaik paud.jpg
·         Mosaik adalah gambar atau hiasan atau pola tertentu yang di buat dengan cara menempelkan bahan/ unsur kecil sejenis (baik bahan, bentuk, maupun ukurannya) yang disusun secara berdempetan pada sebuah bidang.
Menganyam
Menganyam berarti mengatur bilah atau lembaran-lembaran secara tindih-menindih  dan  silangmenyilang.  Dalam  pengertian  lain  anyaman  merupakan usaha atau kegiatan keterampilan dalam permbuatan barang  - barang dengan cara atau  tehnik  silang-menyilang  dan  susup-menyusup,  antara  lungsi  dan  pakan.
Mewarnai, Menggunting, Menempel dan juga Melipat
o   Mewarnai adalah kegiatan memberikan kesan warna pada objek karya seni
o   Menggunting adalah kegiatan keteramplan menggunakan gunting untuk memisahkan objek yang di butuhkan dari bagian yang tidak dibutuhkan untuk memperoleh objek-objek yang tepat untuk menyusun karya seni
o   Menempel adalah menyatukan objek-objek menggunakan lem hingga membentuk satu kesatuan karya seni yang utuh.
o   Melipat adalah kegiatan menekuk-nekukan kertas hingga berbentuk karya seni tiga dimensi

DAFTAR PUSTAKA
1.            Garha, Oho. 2002. “Pengembangan Daya Cipta Melalui Kegiatan Berkarya Seni Rupa”Wacana Seni Rupa.1:21-29.

2.            Nurjantara , Isdi. 2014. “Pengembangan Kreativitas Menggambar Melalui Aktifitas Menggambar Pada Kelompok B2” di TK ABA Kalakijo Guwosari Pajangan Bantul. Skripsi. UNY Yogyakarta

3.            Reno.2013. 4 Fungsi Bermain pada Anak. (Online). http://informid.com/4-fungsi-bermain-pada-anak/ (di akses tanggal 21 April 2017)

4.            Muharrar, Syakir dan Verayanti, Sri. 2013, Kreasi Kolase, Montase, Mozaik Sederhana, Penerbit Erlangga, Semarang