SISTEM PENDIDIKAN SENI
Secara umum terdapat 3 sistem pendidikan seni yang umum
dilakukan, yaitu sistem pencantrikan, sistem akademik, dan sistem sanggar.
Sistem Pencantrikan
Dalam masyarakat yang paling sederhana pada masa awal
peradaban manusia ibu melatih anak perempuannya untuk beercocok taman, ayah
melatih anak laki-lakinya untuk berburu merupakan bentuk pendidikan tertua.
Pendidikan orang tua kepada anaknya untuk mempersiapkan hidup mereka pada
hakekatnya masih berlangung sampai saat ini, sekalipun bentuk, cara, dan
kwalitas tujuannya berbeda. Dalam masyarakat yang telah mengenal peradaban
lebih maju, mereka telah mampu memandang hidup tidak hanya lewat kacamata
survival, melainkan pandangan yang lebih luas. Pendidikan orang tua kepada
anaknya tidak terbatas pada pemberian materi yang bernilai praktis, melainkan
juga nilai yang idealis.
Pemberian keterampilan khusus yang dimiliki orang tua
seringkali didasarkan pada motif rasa
bangga, dalam hal anaknya akan menjadi penerusnya. Contohnya seorang seniman
wayang atau Dalang akan melatih anaknya terus-menerus demi menjadikan anaknya
sebagai Dalang juga nantinya. Penyerahan keterampilan ini seringkali tidak
berjalan dengan wajar, karena cita-cita ideal si ayah tidak dapat diterima oleh
anak. Penolakan biasanya terjadi setelah pandangan hidup anaknya berubah, dia
mempunyai hak untuk menentukan tujuan hidupnya sendiri tanpa terikat oleh orang
lain sesuai dengan keterampilan, bakat dan minat di bidang seni yang lain.
Mengingat pada sistem pencantrikan yang berperan sebagai
guru adalah seniman, banyak murid yang terkadang kurang merasa nyaman karena
cara mengajar yang terkadang bersifat militer. Sehingga pelajar yang
motivasinya kurang kuat akan gagal, sedangakan bagi siswa mempunyai motivasi
yang kuat serta rasa kagum yang mendalam terhadap gurunya (seniman), akan
berhasil nantinya yang dianggap mampu membawakan faham seni si pengajar.
Sistem Akademik
Sistem Pendidikan Seni
Pertumbuhan peradaban ditandai dengan munculnya seni dalam
kehidupan masyarakat, perjuangan untuk mempertahankan hidup (survival) yang
dilakukan oleh manusia purba seperti berburu dianggap kejam terhadap alam. Hal
tersebut mendorong manusia untuk melakukan perbuatan yang lebih artistik,
dengan diperkuat oleh kesadaran magis yang dituangkan di dinding-dinding gua,
pada alat berburu atau dituangkan dalam wujud gerakan tubuh seperti tari perang
dan tari persembahan.
Dalam perkembangannya ungkapan perasaan tertuang dalam dunia
religi dan dibarengi dengan munculnya sistem kerajaan. Para seniman saat itu
ditugaskan untuk menjadikan kerajaan menjadi lebih indah, oleh karena itu raja
memberi imbalan bahkan bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Berhubung
dengan itu, raja mendirikan pusat pendidikan seni untuk mencari seniman-seniman
baru yang mula-mula dengan sistem cantrik yang kemudian lebih sistematik yaitu
akademi seni. Akademi seni pertama kali berdiri di Italia pada abad ke-13
tetapi hanya untuk kalangan atas. Setelah zaman Renaisance abad 14-15 seni
menjadi milik semua orang, setiap orang mempunyai artisitik yang orisinil dalam
menginterpretasikan apa saja yang dikerjakan.
Pada abad ke-20 konsumsi seni mulai meningkat, oleh karena
itu munculah perekrutan seniman dalam bentuk-bentuk sekolah tingkat menengah
atau universitas yang mengikuti pola akademi. Konpetensi pengajar, kapasitas
calon pelajar dan kurikulum telah ditetapkan standarnya dengan tujuan
pendidikan untuk menyiapkan seniman atau pekerja seni/pengrajin
Sistem Sanggar
Sistem Pendidikan Seni
Orang-orang Eropa yang masuk ke Amerika bekerja sebagai
pengamen seni, mereka menggambar potret-potret menurut pesanan mulai dari desa
sampai ke kota. Melakukan pameran-pameran ke berbagai tempat kemudian bertemu
dengan sesama seniman dengan menukar pengalaman dan ide mereka. Di Indonesia sendiri
perjalanan seniman hampir sama, mereka mendirikan sanggar-sanggar di berbagai
daerah di Jawa khususnya Yogyakarta.
Waktu itu Indonesia belum ada lembaga formal dalam
pendidikan seni, maka sanggar yang berperan penting untuk menghimpun para
seniman untuk merekrut generasi muda yang tertarik terhadap seni. Baru setelah
merdeka berdirilah ASRI dan ITB. Sebagai pusat pendidikan sanggar
menyelanggarakan proses belajar-mengajar secara informal, suasana bebas,
berpusat sepenuhnya pada pelajar. Bertujuan untuk menyiapkan calon-calon
seniman yang tidak dapat diterapkan pada sistem pendidikan umum.
itulah beberapa sistem pendidikan seni yang terbagi atas 3
sistem yang masing-masing memiliki kelebihan yang dapat disesuaikan dengan
kebutuhan. Saat ini pendidikan seni lebih mendapat perhatian sehingga dapat
disampaikan di sekolah mengingat fungsi dari pentingnya pendidikan seni
tersebut, salah satunya untuk membentuk kepribadian peserta didik.
bolehkah tambahkn sumbernya?
BalasHapus