SIFAT
SENI RUPA ANAK
Dalam
tata ungkapan emosinya anak-anak masih
memiliki keaslian dalam bentuk gambar atau karya sehingga memiliki keunikan
dibandingkan dengan orang dewasa. Secara khusus, berikut ini disarikan
berdasarkan pendapat Soesatyo
(1994: 32 –33)
bahwa sifat lukisan
(gambar) anak-anak sebagai
berikut:
1. Ideographisme.
Semua
bagian yang dia ingat ada, maka akan dia lukiskan, meskipun pada realitasnya,
tidak semua bagian dapat tergambar di dalam satu gambar. Lukisan anak
merupakan ekspresi berdasar
pengertian dan logika
anak, contoh: anak melukis muka manusia dari samping, meskipun dalam
kenyataan penglihatan, matanya nampak sebuah saja, tetapi berdasarkan
pengertian anak bahwa manusia itu bermata dua, maka dilukislah kedua mata itu
disamping.
2. Steorotif atau
otomatisme.
Ciri gambar
anak yang kedua
adalah ditemukannya gejala
umum penggambaran bentuk benda
secara berulang-ulang dengan
ukuran yang monoton. Gejala ini dinamakan stereotipe. Misalnya
figure manusia yang diulang dalam bentuk
yang sama meski
warnanya berbeda- beda. Atau
bunga-bunga yang sama diulang-ulang. Bahkan sampai pada tema yang terus
diulang-ulang.
3. Gejala finalitas
Biasanya
anak melukiskan manusia atau mahluk lainnya dalam gerak. Penggambaran suatu peristiwa yang sedang
terjadi divisualisasikan dengan membuat objek gambar yang diulang-ulang.
Namun tidak semua
bagian atau anggota
badan dilukis, hanya
yang perlu-perlu saja atau yang
dirasakan penting dalam tema lukisan. Misalnya ibu yang sedang menyapu,
dilukis hanya satu
tangan saja yang
memegang sapu itu, sedang
tangan yang satu
yang tidak berperan
tidak dilukis. Atau tangan yang
lebih berperan dilukis lebih besar dan lebih mendapat tekanan.
4. Perebahan atau
lipatan
Sifat ini
merupakan peristiwa yang
lucu namun logis
buat anak-anak. Disebut juga
sifat tegak lurus atau sifat rabatemen. Benda apa saja yang berdiri tegak pada
suatu garis dasar akan dilukis tegak lurus pada garis dasar tersebut
meskipun garis dasar
itu berbelok atau
miring arahnya. Akibatnya semua
benda tampak rebah atau malah terjungkir.
5. Transparan/X-ray
Pada usia
tertentu kita dapat
menjumpai lukisan anak
dengan sifat tembus pandang. Anak cenderung melukiskan
semua yang ia pikirkan dn ia mengerti meskipun ada beberapa benda objek yang
berada di dalam ruang atau tempat tertutup. Akibatnya adalah peristiwa
tembus pandang atau
sinar X (x–ray). Contoh: ibu
dan bapak duduk
di dalam rumah
dan tertutup dinding, namun dilukis lengkap
dengan benda dan
perabot lain. Kucing makan
tikus. Tikus yang di dalam perut
kucing dilukis juga. Sabagai
bahan perbandingan lihat Satu
nilai yang dapat kita tiru dari anak-anak dengan karakterisrik gambar ini
adalah kejujuran dan kepolosan
jiwa anak. Tentunya hal ini berbeda dengan orang dewasa yang penuh
dengan kepura-puraan.
6. Juxtaposisi.
Sifat
Pemecahan masalah ruang (kedalaman jauh dekat) dalam bidang
datar, diatasi dengan dasar pemikiran praktis. Anak melukis benda atau objek yang
jauh di bagian atas kertas sedang yang dekat dibagian bawah. Bertebar namun
artistic, mirip lukisan Bali.
7. Simetris (setangkep)
Dalam
melukis suatu objek sering timbul gejala atau hasrat untuk melukis hal-hal yang
asimetris menjadi asimetris. Misalnya dua pohon besar di kiri dan di kanan, dua
buah gunung kembar dengan matahari di tengah, setangkai bunga dengan daun kiri
dan di kanan, dan sebagainya.
8. Proporsi
(perbandingan ukuran)
Anak-
anak lebih mementingkan proporsi
nilai dari pada
fisik. Hal-hal yang dianggap lebih penting dibuat lebih besar atau lebih
jelas.
9. Lukisan bersifat
cerita (naratif)
Lukisan/gambar
yang dibuat anak merupakan ungkapan perasaan atau gejolak jiwa. Jadi lukisan adalah
cerita anak, bukan sekedar mencoret sebagai aktivitas motoric atau gerak
anatomis saja. Maka perlu ditanggapi
secara wajar dan dalam sikap menerima serta mengahargai.
A. TAHAP PERKEMBANGAN SENI RUPA ANAK
Pembagian masa/periodisasi dimaksudkan
untuk lebih mengenal
karya seni rupa anak
dalam hal melakukan
kegiatan dan penilaian.
Pada umumnya semua periodisai yang dikemukakan oleh para ahli
memiliki kesamaan, misalnya dimulai dari dua tahun.
Periodisasi masa
perkembangan seni rupa anak
menurut Viktor Lowenfeld dan Lambert Brittain dalam: Creative
and Mental Growth adalah
Masa mencoreng
(scribbling): 2-4 tahun, Masa Prabagan (preschematic):4-7 tahun ,Masa Bagan
(schematic period) : 7-9 tahun,Masa Realisme Awal (Dawning Realism): 9-12
tahun,Masa Naturalisme Semu (Pseudo Naturalistic) : 12-14 tahun ,Masa Penentuan
(Period of Decision) :14-17
tahun.
Penjelasan periodisasi
perkembangan seni rupa anak diatas adalah sebagai berikut:
1. Masa Mencoreng (scribbling) : 2-4 tahun
Goresan-goresan yang
dibuat anak usia
2-3 tahun belum
menggambarkan suatu bentuk
objek. Pada awalnya,
coretan hanya mengikuti
perkembangan gerak motorik. Biasanya,
tahap pertama hanya
mampu menghasilkan goresan
terbatas, dengan arah vertikal atau horizontal. Hal ini tentunya berkaitan dengan kemampuan
motorik anak yang
masih mengunakan motorik
kasar. Kemudian, pada perekembangan berikutnya
penggambaran garis mulai
beragam dengan arah
yang bervariasi pula. Selain itu mereka juga sudah mampu mambuat garis
melingkar.
Periode
ini terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu: 1) corengan tak beraturan,
2) corengan terkendali, dan 3) corengan bernama.
Ciri gambar yang dihasilkan anak pada tahap corengan tak beraturan adalah bentuk
gembar yang sembarang,
mencoreng tanpa melihat
ke kertas, belum
dapat membuat corengan berupa lingkaran dan memiliki semangat yang
tinggi.
Corengan terkendali
ditandai dengan kemampuan
anak menemukan kendali
visualnya terhadap coretan
yang dibuatnya. Hal
ini tercipta dengan
telah adanya kerjasama antara
koordiani antara perkembangan
visual dengan perkembamngan motorik. Hal
ini terbukti dengan
adanya pengulangan coretan
garis baik yang horizontal
, vertical, lengkung , bahkan lingkaran.
Corengan bernama
merupakan tahap akhir
masa coreng moreng.
Biasanya terjadi menjelang usia
3-4 tahun, sejalan
dengan perkembangan bahasanya
anak mulai mengontrol
goresannya bahkan telah
memberinya nama, misalnya:
“rumah”, “mobil”, “kuda”. Hal
ini dapat digunakan
oleh orang tua
atau guru pada
jenjang pendidikan usia dini
(TK) dalam membangkitkan
keberanianan anak untuk mengemukakan kata-kata
tertentu atau pendapat
tertentu berdasarkan hal
yang digambarkannya.
2. Masa Prabagan (preschematic) : 4-7 tahun
Kecenderungan umum
pada tahap ini,
objek yang digambarkan
anak biasanya berupa gambar
kepala-berkaki. Sebuah lingkaran
yang menggambarkan kepala
kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki. Ciri-ciri
yang menarik lainnya
pada tahap ini
yaitu telah menggunakan bentuk-bentuk dasar
geometris untuk memberi
kesan objek dari
dunia sekitarnya. Koordinasi tangan
lebih berkembang. Aspek
warna belum ada
hubungan tertentu dengan objek,
orang bisa saja
berwarna biru, merah,
coklat atau warna
lain yang disenanginya.
Penempatan dan
ukuran objek bersifat
subjektif, didasarkan kepada kepentingannya. Ini dinamakan
dengan “perspektif batin”.
Penempatan objek dan penguasan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.
3. Masa Bagan (schematic period) : 7-9 tahun
Konsep
bentuk mulai tampak lebih jelas. Anak cenderung mengulang bentuk. Gambar masih
tetap berkesan datar
dan berputar atau
rebah (tampak pada penggambaran pohon di kiri kanan jalan
yang dibuat tegak lurus dengan badan jalan, bagian kiri
rebah ke kiri,
bagian kanan rebah
ke kanan). Pada
perkembangan selanjutnya kesadaran ruang muncul dengan dibuatnya garis
pijak (base line).
Penafsiran ruang
bersifat subjektif, tampak
pada gambar “tembus
pandang” (contoh:
digambarkan orang makan
di ruangan, seakan-akan
dinding terbuat dari kaca).
Gejala ini disebut
dengan idioplastis (gambar
terawang, tembus pandang). Misalnya gambar
sebuah rumahyang seolah-olah
terbuat dari kaca
bening, hingga seluruh isi di
dalam rumah kelihatan dengan jelas.
4. Masa Realisme Awal (Dawning Realism) : 9-12 tahun
Pada periode
Realisme Awal, karya
anak lebih menyerupai
kenyataan. Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan
penglihatan sendiri. Mereka menyatukan
objek dalam lingkungan.
Perhatian kepada objek
sudah mulai rinci. Namun
demikian, dalam menggambarkan
objek, proporsi (perbandingan ukuran) belum dikuasai
sepenuhnya. Pemahaman warna
sudah mulai disadari. Penguasan
konsep ruang mulai dikenalnya sehingga letak
objek tidak lagi bertumpu
pada garis dasar,
melainkan pada bidang
dasar sehingga mulai ditemukan garis
horizon. Selain dikenalnya
warna dan ruang,
penguasaan unsur desain seperti keseimbangan dan irama mulai
dikenal pada periode ini.
Ada perbedaan
kesenangan umum, misalnya:
anak laki-laki lebih
senang kepada menggambarkan kendaraan, anak perempuan kepada boneka atau
bunga.
5. Masa Naturalisme Semu (Pseudo
Naturalistic) : 12-14 tahun
Pada masa
naturalisme semu, kemampuan
berfikir abstrak serta
kesadaran sosialnya makin berkembang.
Perhatian kepada seni
mulai kritis, bahkan
terhadap karyanya sendiri. Pengamatan
kepada objek lebih
rinci.
6. Masa Penentuan (Period of Decision) :
14-17 tahun.
Pada periode
ini tumbuh kesadaran
akan kemampuan diri.
Perbedaan tipe individual makin
tampak. Anak yang
berbakat cenderung akan
melanjutkan kegiatannya
dengan rasa senang,
tetapi yang merasa
tidak berbakat akan meninggalkan kegiatan
seni rupa, apalagi
tanpa bimbingan. Dalam
hal ini peranan
guru banyak menentukan, terutama dalam meyakinkan bahwa
keterlibatan manusia dengan seni
akan berlangsung terus
dalam kehidupan. Seni
bukan urusan seniman saja, tetapi urusan semua orang dan siapa pun tak akan terhindar dari
sentuhan seni dalam kehidupannya sehari-hari
B. TAHAP PERKEMBANGAN SENI RUPA ANAK
Periodisasi masa
perkembangan seni rupa anak
menurut Viktor Lowenfeld dan Lambert Brittain dalam: Creative
and Mental Growth adalah
Masa mencoreng (scribbling)
: 2-4 tahun,Masa Prabagan (preschematic) : 4-7 tahun,Masa Bagan (schematic
period) : 7-9 tahun ,Masa Realisme Awal
(Dawning Realism) : 9-12 tahun ,Masa Naturalisme Semu (Pseudo
Naturalistic) : 12-14 tahun ,Masa Penentuan (Period of Decision) : 14-17 tahun.
Penjelasan periodisasi
perkembangan seni rupa anak diatas adalah sebagai berikut:
1. Masa Mencoreng (scribbling) : 2-4 tahun
Goresan-goresan yang
dibuat anak usia
2-3 tahun belum
menggambarkan suatu bentuk
objek. Pada awalnya,
coretan hanya mengikuti
perkembangan gerak motorik. Biasanya,
tahap pertama hanya
mampu menghasilkan goresan
terbatas, dengan arah vertikal atau horizontal. Hal ini tentunya berkaitan dengan kemampuan
motorik anak yang
masih mengunakan motorik
kasar. Kemudian, pada perekembangan berikutnya
penggambaran garis mulai
beragam dengan arah
yang bervariasi pula. Selain itu mereka juga sudah mampu mambuat garis
melingkar.
Periode
ini terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu: 1) corengan tak beraturan,
2) corengan terkendali, dan 3) corengan bernama.
Ciri gambar yang dihasilkan anak pada tahap corengan tak beraturan adalah bentuk
gembar yang sembarang,
mencoreng tanpa melihat
ke kertas, belum
dapat membuat corengan berupa lingkaran dan memiliki semangat yang
tinggi.
Corengan terkendali
ditandai dengan kemampuan
anak menemukan kendali
visualnya terhadap coretan
yang dibuatnya. Hal
ini tercipta dengan
telah adanya kerjasama antara
koordiani antara perkembangan
visual dengan perkembamngan motorik. Hal
ini terbukti dengan
adanya pengulangan coretan
garis baik yang
horizontal , vertical, lengkung , bahkan lingkaran.
Corengan bernama
merupakan tahap akhir
masa coreng moreng.
Biasanya terjadi menjelang usia
3-4 tahun, sejalan
dengan perkembangan bahasanya
anak mulai mengontrol
goresannya bahkan telah
memberinya nama, misalnya:
“rumah”, “mobil”, “kuda”. Hal
ini dapat digunakan
oleh orang tua
atau guru pada
jenjang pendidikan usia dini
(TK) dalam membangkitkan
keberanianan anak untuk mengemukakan kata-kata
tertentu atau pendapat
tertentu berdasarkan hal
yang digambarkannya.
2. Masa Prabagan (preschematic) : 4-7 tahun
Kecenderungan umum
pada tahap ini,
objek yang digambarkan
anak biasanya berupa gambar
kepala-berkaki. Sebuah lingkaran
yang menggambarkan kepala
kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki. Ciri-ciri
yang menarik lainnya
pada tahap ini
yaitu telah menggunakan bentuk-bentuk dasar
geometris untuk memberi
kesan objek dari
dunia sekitarnya. Koordinasi tangan
lebih berkembang. Aspek
warna belum ada
hubungan tertentu dengan objek,
orang bisa saja
berwarna biru, merah,
coklat atau warna
lain yang disenanginya.
Penempatan dan
ukuran objek bersifat
subjektif, didasarkan kepada kepentingannya. Ini dinamakan
dengan “perspektif batin”.
Penempatan objek dan penguasan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.
3. Masa Bagan (schematic period) : 7-9 tahun
Konsep
bentuk mulai tampak lebih jelas. Anak cenderung mengulang bentuk. Gambar masih
tetap berkesan datar
dan berputar atau
rebah (tampak pada penggambaran pohon di kiri kanan jalan
yang dibuat tegak lurus dengan badan jalan, bagian kiri
rebah ke kiri,
bagian kanan rebah
ke kanan). Pada
perkembangan selanjutnya kesadaran ruang muncul dengan dibuatnya garis
pijak (base line).
Penafsiran ruang
bersifat subjektif, tampak
pada gambar “tembus
pandang” (contoh:
digambarkan orang makan
di ruangan, seakan-akan
dinding terbuat dari kaca).
Gejala ini disebut
dengan idioplastis (gambar
terawang, tembus pandang). Misalnya gambar
sebuah rumahyang seolah-olah
terbuat dari kaca
bening, hingga seluruh isi di
dalam rumah kelihatan dengan jelas.
4. Masa Realisme Awal (Dawning Realism) : 9-12 tahun
Pada periode
Realisme Awal, karya
anak lebih menyerupai
kenyataan. Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan
penglihatan sendiri. Mereka menyatukan
objek dalam lingkungan.
Perhatian kepada objek
sudah mulai rinci. Namun
demikian, dalam menggambarkan
objek, proporsi (perbandingan ukuran) belum dikuasai sepenuhnya. Pemahaman
warna sudah mulai disadari. Penguasan konsep ruang mulai
dikenalnya sehingga letak objek
tidak lagi bertumpu pada
garis dasar, melainkan
pada bidang dasar
sehingga mulai ditemukan garis
horizon. Selain dikenalnya
warna dan ruang,
penguasaan unsur desain seperti keseimbangan dan irama mulai
dikenal pada periode ini.
Ada perbedaan
kesenangan umum, misalnya:
anak laki-laki lebih
senang kepada menggambarkan kendaraan, anak perempuan kepada boneka atau
bunga.
5. Masa Naturalisme Semu (Pseudo
Naturalistic) : 12-14 tahun
Pada masa
naturalisme semu, kemampuan
berfikir abstrak serta
kesadaran sosialnya makin berkembang.
Perhatian kepada seni
mulai kritis, bahkan
terhadap karyanya sendiri. Pengamatan
kepada objek lebih
rinci.
6. Masa Penentuan (Period of Decision) :
14-17 tahun.
Pada periode
ini tumbuh kesadaran
akan kemampuan diri.
Perbedaan tipe individual makin
tampak. Anak yang
berbakat cenderung akan
melanjutkan kegiatannya
dengan rasa senang,
tetapi yang merasa
tidak berbakat akan meninggalkan kegiatan
seni rupa, apalagi
tanpa bimbingan. Dalam
hal ini peranan guru banyak menentukan,
terutama dalam meyakinkan
bahwa keterlibatan manusia dengan seni
akan berlangsung terus
dalam kehidupan. Seni
bukan urusan seniman saja, tetapi urusan semua orang dan siapa pun tak akan terhindar dari
sentuhan seni dalam kehidupannya sehari-hari
C. UNGKAPAN DAN PERSPEKTIF SENI RUPA
ANAK
1. Seni Sebagai Ungkapan
Seni
rupa atau visual art juga sebagai bentuk ungkapan seni yang mengekspresikan
pengalaman hidup, peristiwa yang terjadi, pengalaman estetik atau artistik
manusia dengan diungkapkan melalui unsur seni (seni rupa, gerak, bunyi dan
bahasa).
Seni sebagai Bahasa
Perilaku
anak tidak dapat lepas dari kegiatan kesenian, karena dari sini setiap anak
dapat mengungkapkan ide gagasan,
imajinasi, sebuah peristiwa yang pernah terjadi melalui karya seni misal
melukis, menggambar, menyanyi, dan tari.Kegiatan ini sebagai sarana komunikasi
anak secara visual. Dalam proses berkarya seni, pikiran dan perasaan anak akan
bercampur secara aktif. Anak usia dini atau TK belum dapat membedakan makan
berfikir dan merasakan semuanya masih menyatu dalam kegiatan yang bersifat
refleksi.Viktor Lowenfeld dan Lambert Britain ( Hajar Pamadi, 2012: 157) adalah
…”pernah mengutarakan bahwa karya seni anak ini mempunyai jangkuan pikiran yang
sangat komprehensif, sering cara menyimbolkan ide dan gagasan serta perasaan
anak yang tidak dimengerti oleh orang dewasa tidak direspon secara positif,
sehingga anak kendur dalam mengembangkannya”.
Seni
Sebagai Bahasa Visual Anak pada usia SD dalam kehidupannya sangat dekat dengan
berkarya seni. Hampir bisa dikatakan bahwa perilaku anak dekat dengan kegiatan
berkesenian; tiada hari tanpa berseni. Berseni merupakan, kebutuhan anak
dalam:mengutarakan pendapat, berkhayal-berimajinasi, bermain, belajar,memahami
bentuk yang ada di sekitar anak, merasakan: kegembiraan, kesedihan, dan rasa
keagamaan.
Dalam
Konteks komunikasi,seni berperan mengemukakan pendapat, tampak ketika anak
menyanyi atau menari ataupun menggambar bertema maupun tanpa tema. Karya seni
mereka berikan tema Sesuai dengan keinginan pada saat itu; ketika anak
membayangkan nikmatnya berada dalam ban-ban ibu, dan ibu menimangnya sambil
menyanyikan lagu akan kembali muncul dalam bentuk gambar seorang perempuan dan
kain. Ungkapan itu juga dapat berupa celotehan suaran menyanyi dan menirukan
orang sedang menimang boneka. Namun, dapat pula berupa gambar tanpa bentuk,
yang dimulai dari menggambar pesawat terbang yang indah dengan bentuknya yang
khas anak, kemudia sealng beberapa menit gam,bar tersebut dicoret sampai
menutup permukaan. Gambar pesawat yang semula sudah tidak nampak lagi. Disinilah
ungkapan kesal pesawat musuh menembak pesawat idealnya
2. Perspektif Seni Rupa
Anak
Perspektif
anak berdasarkan sifat karyanya :
Ideographisme
Lukisan
anak merupakan ekspresi berdasar pengertian dan logika anak,contoh:anak melukis
muka manusia dari samping, meskipun dalam kenyataan penglihatan, matanya nampak
sebuah saja, tetapi berdasarkan pengertian anak
bahwa manusia itu bermata dua, maka dilukislah kedua mata itu disamping.
Perebahan atau lipatan
Sifat
ini merupakan peristiwa yang lucu namun logis buat anak-anak Disebut juga sifat
tegak lurus atau sifat rabatemen
Benda apa saja yang berdiri tegak padasuatu garis dasar akan dilukis tegak
lurus pada garis dasar tersebut meskipun garis dasar itu berbelok atau miring
arahnya. Akibatnya semua benda tampak rebah atau malah terjungkir.
Gejala finalitas
bagian yang dirasakan penting dalam tema
lukisan di hadirkan lebih . Misalnya ibu yang sedangmenyapu, dilukis hanya satu
tangan saja yang memegang sapu itu, sedang tanganyang satu yang tidak berperan
tidak dilukis. Atau tangan yang lebih berperandilukis lebih besar dan lebih
mendapat tekanan.
Transparan/X-ray
Kebiasaan dan kecenderuangan anak
menggambarkan hal-hal atau peristiwa pada ciri ke tiga ini adalah penggambaran
yang tembus pandang. Sebagai contoh bilaanak melihat kucing makan ikan,
kemudian kita suruh anak itu untuk menggambarkan kucing, maka anak biasanya
akan menggambar kucing dengan perut yang kelihatan ada ikannya.Pada usia
tertentu kita dapat menjumpai lukisan anak dengan sifat tembus pandang. Anak
cenderung melukiskan semua yang ia pikirkan dn ia mengertimeskipun ada beberapa
benda objek yang berada di dalam ruang atau tempattertutup. Akibatnya adalah
peristiwa ray).Contoh: ibu dan bapak duduk di dalam rumah dan tertutup dinding,
namun dilukislengkap ,nilai yang dapat kita tiru dari anak-anak dengan
karakterisrik gambar iniadalah kejujuran dan kepolosan jiwa anak. Tentunya hal
ini berbeda dengan orangdewasa yang penuh dengan kepura-puraan
Juxtaposisi
Sifat Pemecahan masalah ruang (kedalaman jauh
dekat) dalam bidang datar,diatasi dengan dasar pemikiran praktis. Anak melukis
benda atau objek yang jauhdi bagian atas kertas sedang yang dekat dibagian
bawah. Bertebar namun artistic,mirip lukisan Bali.
Simetris (setangkep)
Dalam
melukis suatu objek sering timbul gejala atau hasrat untuk melukis hal-hal yang
asimetris menjadi asimetris. Misalnya dua pohon besar di kiri dan di kanan,dua
buah gunung kembar dengan matahari di tengah, setangkai bunga dengandaun kiri
dan di kanan, dan sebagainya.
Proporsi (perbandingan ukuran)
Anak-anak
lebih mementingkan proporsi nilai dari pada fisik. Hal-hal yang dianggap lebih
penting dibuat lebih besar atau lebih jelas.
REFERENSI
1.
Setiawan, Conny. 1997. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat.
Jakarta: PT Grasindo.
2.
Ahmad, Hariyatunnisa. 2015. Hasil Seni Rupa Berdasarkan Tipologi dan
Periodesasi Perkembangan Anak.(Online). http://hrynisaaa.blogspot.co.id/2015/06/hasil-seni-rupa-berdasarkan-tipologi.html
(Diakses tanggal 3 Juni 2017)
3.
Pasaribu, Viktor. 2013. Karakteristik Lukisan Gambar Anak.(Online).
http://www.academia.edu/3097288/KARAKTERISTIK_LUKISAN_GAMBAR_ANAK.
(Diakses tanggal 3 Juni 2017)
4.
Suyono.2015. Seni Rupa Sebagai Bahasa Visual. (Online). http://blogsuyono.com/wawasan-seni-rupa/seni-rupa-sebagai-bahasa-visual/.
(Diakses tanggal 3 Juni 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar